Perbedaan Jurnal SINTA, Scopus, dan Q1-Q4 yang Wajib Diketahui Peneliti

Ilustrasi Poster Artikel Jurnal Sinta, Scopus, dan Q1-Q4

Menyelesaikan penelitian pastinya belum lengkap kalau kamu belum mempublikasikannya ke dalam jurnal ilmiah. Bagi kamu yang sedang berada di tahap akhir studi atau mulai aktif melakukan riset, kamu pasti sering mendengar istilah akademik seperti jurnal SINTA, Scopus, dan tingkatan Q1 sampai Q4. Cukup banyak peneliti pemula atau mahasiswa yang masih kebingungan membedakan ketiganya.

Memahami perbedaan jurnal SINTA dan Scopus bukan sekadar untuk memenuhi syarat kelulusan saja, tapi juga sangat krusial untuk membangun reputasi akademik kamu ke depannya. Salah memilih target jurnal bisa membuang waktu tunggu yang lama dan biaya publikasi yang tidak sedikit. Supaya tulisan ilmiah masuk ke platform yang tepat, simak artikel ini untuk mengetahui perbedaan jurnal SINTA, Scopus, dan Q1-Q4 yang wajib kamu ketahui!

Read More

Baca juga: Riset Gagal Tembus Scopus? Ini Kesalahan yang Sering Terjadi

 

Apa Itu Jurnal SINTA? (Standar Riset Nasional)

Jurnal SINTA (Science and Technology Index) adalah sebuah portal pemeringkatan dan pangkalan data jurnal ilmiah berskala nasional yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Indonesia. Jika tulisan kamu masuk ke dalam jurnal terindeks SINTA, berarti karya ilmiah yang sudah kamu kerjakan sudah diakui kualitasnya secara sah di tingkat nasional.

 

Tingkatan Jurnal Sinta

Untuk memudahkan klasifikasi kualitas, SINTA membagi jurnal ke dalam 6 tingkatan pemeringkatan, dari SINTA 1 (S1) hingga SINTA 6 (S6).

  • SINTA 1 dan SINTA 2

Ini adalah tingkat tertinggi dalam sistem SINTA. Jurnal di level ini memiliki proses kurasi yang ketat dan sering kali kualitasnya disetarakan dengan jurnal internasional.

  • SINTA 3 hingga SINTA 6

Jurnal di tingkatan ini biasanya memiliki proses review yang lebih bersahabat bagi pemula, sehingga sangat sering dijadikan target publikasi bagi mahasiswa S1 untuk memenuhi syarat kelulusan bebas skripsi.

Baca juga: Tingkatan Jurnal SINTA 1 sampai 6 yang Wajib Diketahui Peneliti

 

Mengenal Scopus sebagai Tolok Ukur Internasional

Jika Sinta adalah standar kebanggaan nasional, maka Scopus adalah database literatur ilmiah berskala global yang dikelola oleh perusahaan asal Belanda, Elsevier. Dalam dunia publikasi akademik, jurnal terindeks Scopus sering dianggap sebagai “standar emas” internasional.

Proses penyeleksian artikel (atau peer-review) di Scopus sangat ketat dan memakan waktu yang cukup lama. Artikel yang berhasil tembus di sini tidak hanya diakui di Indonesia, tapi juga menjadi referensi bagi peneliti dari seluruh dunia. Memiliki publikasi di Scopus umumnya menjadi syarat mutlak bagi dosen yang ingin naik jabatan fungsional (seperti menjadi Guru Besar), syarat lulus mahasiswa S3 (doktoral), atau bagi kamu yang mengincar beasiswa pendidikan di luar negeri.

Baca juga: Mahasiswa S1 bisa Tembus Scopus! Ini Strategi Mudahnya

 

Memahami Sistem Kuartil Jurnal Internasional (Q1, Q2, Q3, Q4)

Ketika kamu membidik jurnal internasional yang terindeks Scopus, kamu akan sering mendengar istilah jurnal Q1, Q2, Q3, dan Q4. Huruf “Q” ini merujuk pada Quartile (Kuartil). Itu adalah sistem peringkat yang menunjukkan besarnya pengaruh sebuah jurnal di bidang ilmu tertentu. Peringkat ini biasanya dihitung menggunakan metrik seperti SJR (SCImago Journal Rank).

Berikut adalah rincian tingkatan kuartil:

  • Q1 (Quartile 1)

Ini adalah top 25% jurnal terbaik di bidangnya. Publikasi di Q1 memiliki kredibilitas tertinggi, paling banyak disitasi oleh peneliti lain, dan otomatis paling sulit ditembus.

  • Q2 (Quartile 2)

Berada di kelompok 25% hingga 50% jurnal terbaik. Kualitasnya sangat baik dan persaingannya tetap ketat.

  • Q3 (Quartile 3)

Berada di rentang 50% hingga 75%. Cocok untuk peneliti menengah yang sedang meningkatkan portofolio publikasi internasionalnya.

  • Q4 (Quartile 4)

Berada di rentang 25% terbawah dari daftar jurnal internasional. Meski berada di urutan bawah, masuk ke jurnal Q4 tetap menjadi pencapaian luar biasa karena jurnal tersebut sudah diakui kredibilitasnya dan terindeks secara global.

 

SINTA vs Scopus, Mana yang Harus Kamu Pilih?

Perbedaan jurnal SINTA dan Scopus yang paling mendasar ada pada skala pengakuan antara nasional atau internasional. Kemudian memilih sistem pemeringkatannya antara S1-S6 atau Q1-Q4. Lalu, mana yang sebaiknya kamu pilih? Semuanya kembali pada profil dan tujuan riset kamu.

Kalau kamu adalah mahasiswa sarjana yang sedang berlatih menulis artikel ilmiah untuk lulus tepat waktu, mengincar jurnal Sinta 3 hingga Sinta 6 adalah langkah yang paling cerdas dan realistis. Tapi kalau target kamu adalah memperluas networking akademik global, mengajukan hibah penelitian bergengsi, atau mengejar beasiswa LPDP ke luar negeri, oleh karenanya menyusun artikel berbahasa Inggris untuk menembus jurnal internasional (Scopus Q3 atau lebih tinggi) adalah investasi yang wajib kamu lakukan.

 

Itulah perbedaan antara jurnal SINTA, Scopus, dan juga sistem kuartil seperti Q1-Q4. Pastikan kamu tidak salah langkah untuk publish artikel ilmiah kamu ke jurnal terbaik. 


Kalau kamu masih membutuhkan asistensi jurnal agar jurnal kamu publish di tempat sasaran, kamu bisa asistensi publikasi jurnal bersama Ebizmark Press. Atau kalau kamu mau tahu strategi supaya lolos SINTA dan Scopus, kamu bisa mengikuti Short Class Ebizmark Lolos Jurnal SINTA dan Scopus dengan Strategi AI Humanize.

Ayo daftar programnya atau konsultasi sekarang, supaya artikel kamu cepat publish!

Related posts