Jangan Sampai Salah! Ini Perbedaan Kualitatif Deskriptif dan Fenomenologi

Gravatar Image
Ilustrasi Poster Artikel Kualitatif Deskriptif dan Fenomenologi

Penelitian menggunakan metode deskriptif maupun fenomenologi masuk ke dalam rumpun penelitian kualitatif berupa data naratif. Tetapi bagi para peneliti pemula terutama mahasiswa, metode tersebut tampak sama sehingga keliru dalam memilih metode sejak awal. Sehingga hal tersebut mengakibatkan perumusan masalah, metode wawancara, dan analisis data dapat berantakan di hadapan dosen penguji maupun reviewer jurnal.

Menghindari hal tersebut, tentunya perlu mengetahui bagaimana perbedaan di antara kedua metode. Untuk itu kamu harus mengetahuinya dengan menyimak artikel ini.

Read More

 

Bedah Penelitian Kualitatif Deskriptif dan Fenomenologi

Penelitian kualitatif deskriptif menjadi pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara ringkas berdasarkan fakta dari suatu peristiwa maupun kejadian. Pada penelitian ini memiliki ciri khas berupa interpretasi yang rendah sehingga tidak membongkar lebih dalam mengenai makna filosofis di balik kata-kata dari narasumber sebagaimana adanya.

Penelitian metode fenomenologi bukan hanya menggambarkan apa yang sedang terjadi, tetapi peneliti akan membongkar bagaimana manusia memaknai pengalaman hidup mereka. Fenomenologi memiliki ciri khas analisis data yang lebih mendalam, jadi peneliti tidak hanya bertanya pada narasumber, tetapi juga fokus terhadap makna dalam fenomena yang terjadi. 

 

Baca juga: Mengenal Jenis-jenis Metode Wawancara dalam Penelitian

 

Perbedaan Utama Penelitian Metode Deskriptif dan Fenomenologi

Gambaran yang bisa kamu lihat dengan cepat berdasarkan ahli metodologi terkemuka seperti  Creswell dan Sandelowski, berikut adalah perbedaan antara penelitian kualitatif deskriptif dengan fenomenologi:

1. Fokus Penelitian

  • Metode deskriptif menggambarkan fenomena, peristiwa, ataupun persepsi berdasarkan fakta yang ada.
  • Fenomenologi lebih menggali esensi secara mendalam dari fenomena yang terjadi dalam pengalaman hidup individu maupun kelompok.

2. Pertanyaan Penelitian atau Rumusan Masalah

  • Biasanya pada penelitian kualitatif menggunakan struktur kata tanya apa, siapa, di mana, dan bagaimana. Pertanyaan penelitian lebih berfokus pada kejadian nyata, fakta sosial, atau persepsi secara langsung.
  • Penggunaan kata tanya bagaimana lebih banyak digunakan pada penelitian menggunakan metode fenomenologi yang berfokus pada dinamika dan esensi mendalam dari subjek.

3. Jumlah Partisipan atau Narasumber

  • Narasumber dari penelitian kualitatif deskriptif biasanya berasal dari latar belakang yang lebih bervariasi sekitar 10-30 orang. Pengambilan sampel akan dihentikan ketika data sudah berada di titik jenuh (data saturation). 
  • Pada metode fenomenologi narasumber biasanya sangat spesifik dan hanya sekitar 3-10 partisipan saja dan harus yang mengalami langsung fenomena yang diteliti.

4. Teknik Analisis Temuan Data

  • Analisis tematik atau content analysis biasanya digunakan dalam kualitatif deskriptif. Model Miles dan Huberman dalam reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan lebih banyak digunakan oleh para peneliti.
  • Fenomenologi lebih menggunakan prosedur khusus seperti Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) atau model Moustakas yang berisi horizonalization, clusters of meaning, textural and structural description, dan essence.

5. Hasil Akhir Penelitian Kualitatif Deskriptif dan Metode Fenomenologi

  • Penelitian deskriptif menggunakan rangkuman yang deskriptif dengan hasil terstruktur, komprehensif, dan mudah dipahami oleh publik.
  • Hasil akhir pada metode fenomenologi lebih mengarah pada deskripsi tekstural dan struktural yang mendalami mengenai makna esensial suatu fenomena.

 

Cara Menentukan Antara Metode Deskriptif dengan Fenomenologi

Sebagai panduan agar kamu tidak lagi bingung dalam memilih kedua metode tersebut, inilah cara menentukan metode mana yang cocok untuk penelitianmu:

1. Pilih Metode Kualitatif Deskriptif

Kamu bisa memilih metode ini pada penelitianmu jika:

  • Target penelitian untuk menggambarkan fakta di lapangan yang komprehensif.
  • Kamu ingin memetakan proses yang terjadi, faktor yang menjadi pendukung atau penghambat, persepsi umum masyarakat terhadap suatu kebijakan, produk, atau fenomena sosial.
  • Tidak ingin menggali makna filosofis secara mendalam, trauma, atau pengalaman personal dari individu.

2. Pilih Metode Fenomenologi

Metode fenomenologi bisa kamu pilih jika:

  • Kamu meneliti topik yang lebih personal dan mendalam pada suatu fenomena yang dialami oleh individu maupun dalam kelompok.
  • Rumusan masalah berpusat pada arti dan pengalaman bagi hidup para narasumber.
  • Peneliti yang terlibat siap menjalankan prosedur wawancara secara mendalam yang dapat dilakukan berkali-kali dengan narasumber yang lebih sedikit.

 

Panduan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan metode seperti apa yang akan cocok dalam penelitianmu. Sehingga kamu dapat mempertanggungjawabkan alur metode penelitianmu secara mantap di hadapan dosesn pembimbing maupun penguji.

 

Baca juga: Data Penelitian Kualitatif Tidak Lengkap? Ini Dia Solusinya!

 


 

Kamu sudah tahu perbedaan antara kedua metode tersebut, sehingga jangan sampai salah dalam memilih di antara metode fenomenologi dan deskriptif. Untuk memperdalam penelitianmu, kamu bisa menggunakan jasa konsultasi (bimbingan) di MyData bersama dengan para ahli agar penelitian kamu tetap berjalan dengan lancar.

 

Follow akun Instagram dan TikTok MyData. Lalu ayo ikut bergabung ke dalam program-program dari Ebizmark terkait dengan pelatihan penelitian yang dapat kamu akses secara terjangkau. Jangan sampai kelewatan kesempatannya ya! Daftar sekarang juga!

Related posts