Metode Fenomenologi adalah salah satu metode dalam rumpun penelitian kualitatif. Kalau kamu berencana untuk melakukan penelitian yang fokusnya menggali pengalaman hidup seseorang atau kelompok secara mendalam, metode ini cocok untuk kamu gunakan.
Fenomenologi menuntut kamu untuk menggali makna esensial dari suatu peristiwa yang dialami langsung oleh subjek. Agar skripsimu atau penelitianmu cepat di-ACC dan minim revisi, ikuti langkah-langkah di artikel ini.
Metode Fenomenologi Itu Penelitian yang Seperti Apa?
Penelitian menggunakan metode fenomenologi secara khusus berfokus untuk menggali makna terdalam dari pengalaman hidup individu terhadap suatu peristiwa. Di sini kamu tidak akan mencari data statistik, tetapi berusaha memahami seperti apa rasanya ketika menghadapi situasi tersebut secara langsung.
Karakteristik utama saat kamu menerapkan metode fenomenologi meliputi:
- Mendengarkan cerita dari sudut pandang orang pertama (partisipan).
- Menemukan benang merah atau kesamaan esensi universal dari pengalaman para partisipan.
- Menahan segala prasangka atau opini pribadi agar hasil analisis murni berasal dari pandangan dan perasaan partisipan.
Metode riset lain mencoba membedah fenomena dari luar, sementara fenomenologi menuntut kamu untuk menyelami fenomena tersebut langsung dari dalam pikiran subjek penelitian.
Baca juga: Jangan Sampai Salah! Ini Perbedaan Kualitatif Deskriptif dan Fenomenologi
Langkah-langkah Penelitian Menggunakan Metode Fenomenologi
Melakukan penelitian menggunakan metode fenomenologi dapat diikuti dengan langkah-langkah berikut:
1. Tentukan Fenomena yang Spesifik
Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah memilih dan fiksasi fenomena yang ingin digali. Fokus utama dalam penelitian fenomenologi adalah pengalaman sadar” (conscious experience). Contoh sederhananya seperti, “Pengalaman Psikologis Penyintas Cyberbullying” atau “Makna Bekerja bagi Ibu Tunggal”. Pastikan fenomena ini nyata dan memiliki dampak signifikan pada partisipan.
2. Praktikan Bracketing (Epoche)
Tahap ini adalah kunci utama yang sering dilewatkan mahasiswa sehingga berujung revisi. Sebelum turun ke lapangan, kamu wajib melakukan bracketing, yaitu menunda segala asumsi, teori, dan prasangka pribadi kamu terkait topik tersebut. Kamu harus masuk ke lapangan dengan pikiran netral agar bisa memandang fenomena murni dari pengalaman pribadi partisipan, bukan dari opinimu.
3. Tentukan Partisipan Menggunakan Purposive Sampling
Tahap penentuan partisipan tidak bisa dilakukan secara acak. Kamu harus menggunakan teknik purposive sampling di mana ada syarat tertentu yang mengharuskan seseorang untuk menjadi partisipan.
Jumlah partisipan tidak perlu mencapai puluhan orang. Berkisar antara 3 hingga 10 orang saja sudah sangat cukup. Syarat utamanya mereka harus benar-benar mengalami fenomena tersebut secara langsung dan mampu menceritakannya secara artikulatif dan mendalam.
4. Lakukan Wawancara Mendalam dengan Partisipan yang Relevan dengan Fenomena
Gunakan pertanyaan terbuka (open-ended). Biarkan partisipan bercerita sebebas mungkin tentang apa yang mereka alami dan bagaimana situasi saat itu terjadi. Jadilah pendengar aktif, dan jangan menyela alur cerita mereka hanya demi mengejar daftar pertanyaan yang sudah kamu siapkan.
5. Eksplikasi Data (Analisis Tematik)
Alih-alih hanya menganalisis, dalam fenomenologi kamu melakukan eksplikasi. Baca transkrip wawancara berulang kali untuk menemukan meaning units (unit-unit makna) atau pernyataan penting. Setelah itu, kelompokkan unit-unit tersebut ke dalam tema-tema besar yang merepresentasikan esensi dari pengalaman partisipan.
6. Tuliskan Deskripsi Tekstural dan Struktural
Langkah terakhir, kamu akan menyusun laporan dengan menggabungkan deskripsi tekstural (menjelaskan apa yang dialami partisipan) dan deskripsi struktural (menjelaskan konteks atau bagaimana mereka mengalaminya). Gabungan keduanya akan menghasilkan esensi atau makna terdalam dari fenomena tersebut, yang akan menjadi jawaban utuh dari rumusan masalah penelitianmu.
Penerapan metode fenomenologi memang membutuhkan kepekaan analisis ekstra, tetapi hasil temuan datanya akan jauh lebih kaya, orisinal, dan insightful. Kamu juga perlu memperhatikan tips dalam penggunaan metode penelitian agar penelitian kamu lebih maksimal.
Tips Agar Metode Fenomenologi Kamu Minim Revisi
Bagi sebagian orang yang sudah paham langkah-langkahnya, bisa saja masih waswas saat mau mulai turun ke lapangan. Ini hal yang wajar, terutama bagi peneliti pemula. Agar menghindari banyaknya yang revisi dan memperlancar penelitianmu, perhatikan tips di bawah ini:
1. Fokus pada Probing (Penggalian Lanjutan)
Untuk menggali informasi yang lebih lanjut, kamu tidak bisa puas hanya dengan jawaban yang terlalu singkat tanpa adanya informasi lanjutan. Misalkan narasumber mendeskripsikan pengalamannya dengan kata “sedih”, kamu bisa bertanya kembali padanya menggunakan pertanyaan probing seperti “bisa diceritakan lebih detail, rasa sedih seperti apa yang dialami saat momen itu terjadi?” Dari pertanyaan itu saja sudah mengarah pada jawaban dengan kedalaman makna.
2. Jangan Paksa Data Mencocoki Teori
Kesalahan fatal mahasiswa yang berujung revisi bab pembahasan adalah mencoba memaksakan hasil wawancara agar pas dengan teori di bab 2. Fenomenologi berprinsip induktif; sehingga biarkan data berbicara. Makna harus muncul murni dari cerita narasumber, bukan dari kerangka teori yang kamu buat.
3. Buat Transkrip Verbatim Secara Utuh
Saat menyalin rekaman wawancara menjadi teks (transkrip), tulislah secara verbatim (kata per kata). Jangan buang reaksi non-verbal seperti jeda panjang, hela napas, tawa, suara bergetar, hingga tangisan. Dalam fenomenologi, reaksi emosional tersebut adalah data krusial yang menunjukkan intensitas pengalaman subjek.
4. Jaga Konsistensi Bracketing Selama Riset
Bracketing (menahan asumsi pribadi) bukan hanya dilakukan di awal, tapi harus dipertahankan sampai kamu selesai menulis kesimpulan. Setiap kali kamu merasa ingin menyelipkan opinimu ke dalam analisis, segera sadari dan kembalikan fokus murni pada perspektif narasumber.
Hal ini perlu dihindari untuk menjaga objektivitas dan validitas dari temuan data di lapangan. Apabila opini pribadi masuk ke dalam penelitian, hasil yang diperoleh cenderung subjektif dan tidak mencerminkan hal yang sebenarnya terjadi di lapangan.
5. Lakukan Member Checking (Validasi Data)
Ini adalah senjata rahasia agar validitas (keabsahan) datamu tidak dibantai oleh dosen penguji. Setelah kamu merangkum esensi wawancara, tunjukkan kembali hasilnya kepada narasumber. Tanyakan pada mereka untuk mengetahui apakah deskripsi ini sudah benar-benar mewakili apa yang mereka rasakan. Jika mereka setuju, datamu sudah valid!
Menjaga tips dari kelima aspek tersebut, bisa membuat penelitianmu minim revisi. Jadi, pastikan kamu untuk mengikuti langkah-langkah dan beberapa tips di atas ya!
Kalau kamu masih kesulitan dalam penelitian fenomenologi atau bahkan menggunakan metode lainnya, kamu bisa konsultasi bersama dengan ahlinya di MyData yang akan bimbing penelitian kamu sampai selesai.
Yuk konsultasi sekarang! Jangan sampai kehilangan kesempatan ya!







