Cara Lolos Turnitin AI dengan Humanisasi Teks AI untuk Tesis dan Disertasi

Gravatar Image

Bagi mahasiswa tahun terakhir, pengajar, atau peneliti profesional yang sedang menyusun skripsi, tesis dan disertasi, Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Gemini, Claude, atau Perplexity telah menjadi alat bantu sangat penting untuk efisiensi waktu dan tenaga. Berdasar dari situlah banyak pengguna AI yang menggunakan humanisasi teks AI. AI sangat membantu dalam mencari literatur, mengembangkan ide, dan menyusun struktur penulisan dengan lebih cepat, sehingga humanisasi teks sangat dibutuhkan.

Di sisi lain, sistem deteksi kepenulisan seperti Turnitin AI Writing Detector sering membuat para peneliti merasa cemas, terlebih ketika naskah tugas akhir menunjukkan bahwa sebagian besar teks terdeteksi tulisan AI.

Peneliti akan menghadapi risiko yang ketat dan tanggung jawab yang lebih berat, meskipun pada karya tulis tersebut hanya terdeteksi sedikit saja tulisan AI. Di samping itu, memahami cara humanisasi teks AI dengan akurat dan minimnya terdeteksi AI sangatlah penting. Dengan demikian, karya tulis akan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah yang berlaku.

 

Baca juga: Tips Prompt AI untuk Riset Akademik, Contoh Prompt ChatGPT dan Gemini

 

Apa Itu Humanisasi Teks AI untuk Karya Tulis Ilmiah?

 

Humanisasi teks AI merupakan perubahan susunan kata atau diksi yang bersumber dari AI agar terlihat seperti tulisan manusia yang sebenarnya. Hal tersebut mencangkup gaya penulisan, bahasa, ritme, struktur, dan juga tone yang sama dengan manusia.

Dalam konteks penulisan akademis, terutama untuk penyusunan tesis dan disertasi, humanisasi AI sangat penting. Teks mentah dari AI memiliki pola statistik yang sangat teratur, sehingga mudah teridentifikasi oleh sistem pemindai seperti Turnitin AI Detector. Maka dari itu, humanisasi teks AI perlu dilakukan agar tulisan terlihat seperti buatan manusia.

Rekonstruksi kalimat secara mandiri juga diperlukan, karena humanisasi yang telah dilakukan dengan baik hasilnya tidak selalu sesuai dengan gaya kepenulisan masing-masing individu. Serta hal yang paling krusial adalah memastikan sumber tulisan sudah sesuai dengan fakta, karena beberapa AI akan membuat sumber riset yang fiktif.

 

Kenapa Teks yang Bersumber dari AI Mudah Terdeteksi Turnitin AI?

 

Sistem pendeteksi AI bekerja dengan memeriksa dua dua parameter utama dalam bahasa. Parameter pertama adalah tingkat kebingungan (perplexities). Parameter ini mendeteksi tulisan AI yang cenderung mengandung ambiguitas. Selain itu juga tulisan parameter pertama memiliki tingkat keteraturan yang cukup tinggi dan monoton, karena AI memilih kata-kata yang paling sering muncul bersamaan.

Parameter kedua adalah tingkat variasi panjang kalimat. Biasanya pada tulisan yang ditulis secara langsung oleh manusia memiliki struktur kalimat yang beragam, misalnya dari panjang pendeknya kalimat yang digunakan sebagai diksi dari karya tulisan akan berbeda dari kalimat per kalimat. Hal ini berbanding terbalik dengan AI yang cenderung menghasilkan kalimat dengan panjang dan ritme yang konsisten.

Berdasarkan laporan teknis dan riset literatur terkait integritas akademik, algoritma ini terus diperbarui. Tujuannya adalah untuk menemukan pola matematis dalam karya tulis ilmiah. Maka dari itu, salin dan tempel langsung hasil AI adalah kesalahan besar bagi para peneliti.

 

Cara Humanisasi Teks AI yang Berpotensi Lolos dari Turnitin AI

 

1. Rekonstruksi Susunan Kalimat AI secara Mandiri

 

Biasanya setelah mendapatkan tulisan dari AI akan menggunakan parafrase AI agar beberapa kata dari AI diubah menjadi kata-kata dengan makna yang serupa. Namun hal ini justru tricky, karena parafrase AI akan mengubah susunan kalimat dan pemilihan kata yang hanya diubah dengan sinonim yang sederhana. Beberapa orang akan melanjutkan hasil parafrase ke humanize AI agar tulisan lebih terlihat seperti buatan manusia.

Meskipun menggunakan trik seperti itu untuk efisiensi waktu dan tenaga, tetapi justru hal ini akan terdeteksi teks hasil AI oleh turnitin AI. Maka dari itu, penyusunan kalimat secara mandiri diperlukan untuk menghindari tulisan yang bersumber dari AI, bukan tulisan orisinal dari peneliti. Karena mau bagaimanapun, tulisan yang orisinal oleh peneliti akan dinilai profesional dan faktual, jika dibandingkan dengan kalimat full AI yang tidak terjamin kebenaran dari tulisannya.

 

2. Pastikan Sitasi dan Sumber Pustaka yang Relevan dan Faktual, Bukan Fiktif

 

Pada beberapa model AI jika menggunakan fitur yang biasa bukan fitur premium, biasanya AI akan memberikan informasi yang fiktif. Contohnya ketika memutuskan mencari penelitian terdahulu menggunakan bantuan AI supaya lebih praktis dan hemat waktu, tetapi AI malah memberikan hasil penelitian karangan AI yang terbilang sangat tidak relevan dengan penelitian.

Hal ini bisa diakali dengan penggunaan prompt yang benar dan informatif tanpa meninggalkan satu detail pun, agar AI dapat menghasilkan tulisan atau memberikan data sesuai dengan kebutuhan. Tidak lupa untuk terus memastikan dan membuka kembali hasil temuan yang diberikan AI untuk meninjau isinya apakah sudah sesuai dengan yang dikatakan oleh AI atau justru sangat tidak sesuai.

 

3. Buat Gaya Bahasa, Struktur, dan Panjang Pendek Kalimat Menjadi Lebih Bervariasi

 

Seperti yang telah dibahas pada artikel ini, penggunaan gaya bahasa, struktur, dan panjang pendeknya dari AI akan sangat terlihat, mengingat dari tulisannya yang cukup konsisten dalam penggunaan diksi dan juga cenderung menggunakan kalimat-kalimat pendek.

Bagian ini adalah bagian yang sangat perlu diperhatikan. Jika merujuk pada karya tulis ilmiah yang sifatnya menjelaskan cukup detail, tentu bagian ini akan terasa berbeda dengan AI yang hanya menjelaskan dengan kalimat sederhana tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang hal-hal yang belum terjelaskan.

 

Fast Track Tesis dan Disertasi Dengan Optimasi dan Humanisasi AI

 

Pengerjaan tesis dan disertasi terasa cukup lama jika tidak menggunakan track pengerjaan tesis dan disertasi. Gabung dengan webinar gratis “Fast Track Tesis dan Disertasi Dengan Optimasi dan Humanisasi AI” bersama pemateri ahli metodologi Prof. Dr. Sugiyono, M.Pd dan konsultan akademik AI berpengalaman Dr. Christian Wiradendi Wolor. Ayo daftar sekarang, sebelum kuotanya kehabisan!

Jangan lupa untuk ikuti akun Instagram @ebizmark.id untuk dapatkan informasi menarik lainnya terkait penelitian!

Related posts