{"id":4949,"date":"2026-08-17T02:39:10","date_gmt":"2026-08-17T02:39:10","guid":{"rendered":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/?p=4949"},"modified":"2026-08-17T02:39:10","modified_gmt":"2026-08-17T02:39:10","slug":"research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/","title":{"rendered":"Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal"},"content":{"rendered":"<p>Ketika ingin memulai penelitian kuantitatif, ada beberapa hal yang perlu diketahui. Salah satunya adalah <em>research gap<\/em> penelitian kuantitatif yang cukup krusial untuk ditinjau oleh <em>reviewer<\/em> jurnal. Simak artikel ini supaya lolos dari <em>reviewer<\/em> jurnal dan minim revisi!<\/p>\n<h2>Apa Itu Research Gap dalam Penelitian?<\/h2>\n<p>Bagi beberapa pemula, mungkin akan bertanya <em>research gap<\/em> dalam penelitian itu apa?<\/p>\n<p><em>Research gap<\/em> adalah celah penelitian, kesenjangan penelitian, kekosongan, ketidakselarasan, ataupun pertanyaan yang belum terjawab pada penelitian sebelumnya. <em>Research gap<\/em> berfungsi sebagai pilar untuk membedah mengapa penelitian tersebut mendesak untuk dilakukan. Tanpa adanya celah dalam penelitian, karya tulis ilmiah yang sudah ditulis berpotensi ditolak karena dianggap sebagai pengulangan penelitian terdahulu.<\/p>\n<p>Sebelum menentukan <em>research gap<\/em> pada penelitian, perlu untuk menganalisis dan mencari celah penelitian atau hal yang belum dibahas pada penelitian-penelitian sebelumnya.<\/p>\n<h2>7 Jenis Research Gap Menurut Taksonomi Miles (2017)<\/h2>\n<h3>1. Population Gap<\/h3>\n<p>Penelitian terdahulu yang belum mencangkup populasi lainnya. Contohnya pada penelitian A meneliti dengan populasi wilayah barat, sedangkan wilayah timur tidak disinggung sedikit pun.<\/p>\n<h3>2. Empirical Gap<\/h3>\n<p>Kesenjangan penelitian yang membutuhkan verifikasi ulang secara empiris, apabila penelitian terdahulu tidak ada pendekatan secara langsung dengan subjek maupun objek penelitian.<\/p>\n<h3>3. Methodological Gap<\/h3>\n<p>Metode yang dilakukan berbeda dengan penelitian sebelumnya. Hal ini juga dapat terjadi apabila metode pada penelitian terdahulu kurang tepat, sehingga membutuhkan metode lain yang lebih cocok.<\/p>\n<h3>4. Theoretical Gap<\/h3>\n<p>Teori yang digunakan dalam penelitian sebelumnya dianggap kurang relevan untuk menjembatani proses penelitian. Maka dari itu, diperlukan penggunaan teori yang lebih relevan dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.<\/p>\n<h3>5. Knowledge Gap<\/h3>\n<p>Belum ada bahasan tertentu mengenai suatu topik dari penelitian terdahulu. <em>Knowledge gap<\/em> juga mencangkup apabila suatu penelitian kekurangan informasi maupun pemahaman terhadap topik yang diteliti.<\/p>\n<h3>6. Evidence Gap<\/h3>\n<p><em>Research gap<\/em> ini terjadi ketika data empiris atau bukti lapangan masih sangat kurang, tidak memadai, ataupun saling bertentangan yang membuat tidak ada kesimpulan yang pasti.<\/p>\n<h3>7. Practical Knowledge Gap<\/h3>\n<p>Bagian ini adanya perbedaan antara informasi secara teori dengan kenyataan di lapangan. Contohnya ketika teori telah dipahami, tetapi secara praktik belum teruji.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"http:\/\/ebizmark.id\/artikel\/tips-menemukan-research-gap-dari-penelitian-terdahulu\">Tips Menemukan Research Gap Dari Penelitian Terdahulu<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Perbedaan Research Gap Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif<\/h2>\n<p>Terdapat perbedaan <em>research gap<\/em> pada penelitian kuantitatif dan kualitatif. Masing-masing penelitian mendominasi research gap menurut Taksonomi Miles sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Research Gap Penelitian Kuantitatif<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Berfokus pada pengujian hipotesis, pengukuran hubungan kausal atau korelasi. Pada penelitian kuantitatif sering ditemukan <em>research gap<\/em> yang hasilnya bertentangan dengan penelitian lain, perbedaan penggunaan teori, dan juga metode yang berpengaruh pada hasil.<\/p>\n<p>Kesenjangan penelitian pada kuantitatif diturunkan secara sistematis menjadi perumusan hipotesis nol dan hipotesis alternatif yang menjadi dugaan hasil penelitian, penentuan uji statistik, serta operasionalisasi variabel.<\/p>\n<p>Maka penelitian kuantitatif didominasi dengan <em>Evidence gap, theoretical gap<\/em>, dan <em>methodological gap<\/em>.<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Research Gap Penelitian Kualitatif<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Penelitian ini memiliki fokus pada eksplorasi fenomena baru, penggalian makna subjektif, pembentukan konsep atau teori di lapangan, dan juga pemahaman mendalam mengenai bagaimana dan mengapa suatu hal dapat terjadi.<\/p>\n<p><em>Research gap<\/em> pada kualitatif akan diturunkan menjadi pertanyaan penelitian terbuka sebagai jembatan untuk akhirnya melakukan wawancara, observasi, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Penelitian ini didominasi <em>knowledge gap, population gap<\/em>, dan <em>methodological gap<\/em>.<\/p>\n<h2>Kriteria Research Gap Kuantitatif yang Paling Disukai Reviewer SINTA dan Scopus<\/h2>\n<p><em>Reviewer<\/em> jurnal terindeks SINTA 1-2 dan Scopus Q1-Q2 menerapkan standar kualitas yang ketat dalam menilai bagian pendahuluan dari artikel kuantitatif. Kualitas karya tulis ilmiah tidak hanya ditentukan oleh kompleksitas teknik pengolahan data, tetapi juga oleh kekuatan argumen yang mendasari pemilihan variabel dan pengujian hipotesis.<\/p>\n<p><em>Reviewer<\/em> jurnal internasional sangat menghargai kesenjangan yang dihasilkan dari bukti empiris yang bertentangan. Pernyataan sederhana seperti &#8220;penelitian tentang topik ini masih minim&#8221; sering kali dipandang kurang memadai dan tidak ada pertentangan antara penelitian terdahulu. Sebaliknya, peneliti harus secara kritis memetakan bagaimana Studi A menunjukkan pengaruh positif yang signifikan, sedangkan Studi B justru menemukan hasil yang negatif atau tidak signifikan.<\/p>\n<p>Ketidakkonsistenan hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat variabel lain yang belum diukur atau belum dimasukkan ke dalam model. Peneliti kuantitatif yang berpengalaman memanfaatkan <em>evidence gap<\/em> ini untuk mengusulkan variabel pemoderasi atau pemediasi dalam rangka menyelesaikan ketidakkonsitenan penelitian tersebut.<\/p>\n<h2>\u200bContoh Susunan Kalimat pada Research Gap yang Disukai Reviewer<\/h2>\n<p>Sebagai pemula, mungkin akan bingung bagaimana cara menyusun kalimat yang baik terhadap <em>research gap<\/em> yang akan disukai oleh editor jurnal. Contoh susunan kalimat yang dapat dijadikan referensi adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>\u200b&#8221;Meskipun (apa yang telah dibuktikan\/diteliti oleh studi terdahulu), tetapi (apa yang masih belum terjelaskan, kontradiktif, atau terbatas), sehingga (bagaimana penelitian kuantitatif ini mengisi ruang kosong tersebut).&#8221;<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Secara keseluruhan, penyusunan <em>research gap<\/em> kuantitatif yang berpacu pada ketidakkonsistenan hasil penelitian dalam aspek manapun, maupun perbaikan menjadi salah satu faktor keberhasilan karya tulis ilmiah agar terhindar dari penolakan <em>reviewer<\/em> jurnal bergengsi. Karena itulah, para peneliti diharapkan untuk memperhatikan pemetaan <em>research gap<\/em> menurut Taksonomi Miles supaya penelitian menjadi terorganisir dari kesenjangan penelitian sebelumnya.<\/p>\n<p>Jika memerlukan bantuan mengenai strategi publish jurnal ataupun ingin <a href=\"http:\/\/press.ebizmark.id\/penyempurnaan-naskah\">publish jurnal sambil didampingi oleh ahli<\/a>, kunjungi <a href=\"http:\/\/press.ebizmark.id\">Ebizmark Press<\/a>\u00a0untuk mendapatkan pendampingan jurnal, hingga publish di jurnal bergengsi. Jangan sampai kesempatan ini terlewat!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika ingin memulai penelitian kuantitatif, ada beberapa hal yang perlu diketahui. Salah satunya adalah research&nbsp;[&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":4950,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[11,7],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-4949","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-jurnal","category-penelitian"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal - Ebizmark Blog<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mau publish jurnal tapi belum tahu reviewer jurnal suka research gap penelitian kuantitatif yang seperti apa? Baca artikel ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal - Ebizmark Blog\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mau publish jurnal tapi belum tahu reviewer jurnal suka research gap penelitian kuantitatif yang seperti apa? Baca artikel ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Ebizmark Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-17T02:39:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Research-gap-penelitian-kuantitatif.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Syifa Anten Hening Gumati\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Syifa Anten Hening Gumati\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal - Ebizmark Blog","description":"Mau publish jurnal tapi belum tahu reviewer jurnal suka research gap penelitian kuantitatif yang seperti apa? Baca artikel ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal - Ebizmark Blog","og_description":"Mau publish jurnal tapi belum tahu reviewer jurnal suka research gap penelitian kuantitatif yang seperti apa? Baca artikel ini!","og_url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/","og_site_name":"Ebizmark Blog","article_published_time":"2026-08-17T02:39:10+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1280,"url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Research-gap-penelitian-kuantitatif.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Syifa Anten Hening Gumati","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Syifa Anten Hening Gumati","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/"},"author":{"name":"Syifa Anten Hening Gumati","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/person\/69f4733cf6d31fb2d7d7c6e4d1a1006c"},"headline":"Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal","datePublished":"2026-08-17T02:39:10+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/"},"wordCount":796,"publisher":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Research-gap-penelitian-kuantitatif.jpg","articleSection":["Jurnal","Penelitian"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/","name":"Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal - Ebizmark Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Research-gap-penelitian-kuantitatif.jpg","datePublished":"2026-08-17T02:39:10+00:00","description":"Mau publish jurnal tapi belum tahu reviewer jurnal suka research gap penelitian kuantitatif yang seperti apa? Baca artikel ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/#primaryimage","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Research-gap-penelitian-kuantitatif.jpg","contentUrl":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Research-gap-penelitian-kuantitatif.jpg","width":1920,"height":1280},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/research-gap-penelitian-kuantitatif-yang-disukai-reviewer-jurnal\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Research Gap Penelitian Kuantitatif yang Disukai Reviewer Jurnal"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#website","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/","name":"Ebizmark Blog","description":"Kumpulan informasi mengenai penelitian, olah data, dosen, mahasiswa","publisher":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#organization","name":"Ebizmark","alternateName":"PT Ebiz Prima Nusa","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/cropped-cropped-Logo-Baru-Ebizmark-e1749526996722.png","contentUrl":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/cropped-cropped-Logo-Baru-Ebizmark-e1749526996722.png","width":200,"height":67,"caption":"Ebizmark"},"image":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/person\/69f4733cf6d31fb2d7d7c6e4d1a1006c","name":"Syifa Anten Hening Gumati","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dc01efc4c401c8e4b67bed175b4cb4b2e21c853d3fc21d0a7054a8b99dc8b7fa?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dc01efc4c401c8e4b67bed175b4cb4b2e21c853d3fc21d0a7054a8b99dc8b7fa?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dc01efc4c401c8e4b67bed175b4cb4b2e21c853d3fc21d0a7054a8b99dc8b7fa?s=96&d=mm&r=g","caption":"Syifa Anten Hening Gumati"},"url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/author\/syifa\/"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4949","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4949"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4949\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4955,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4949\/revisions\/4955"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4950"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4949"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4949"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4949"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=4949"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}