{"id":2358,"date":"2025-01-31T06:32:04","date_gmt":"2025-01-31T06:32:04","guid":{"rendered":"https:\/?p=2358"},"modified":"2025-01-31T06:37:57","modified_gmt":"2025-01-31T06:37:57","slug":"grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/","title":{"rendered":"Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/drkriukow.com\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/grounded-theory-23899358.jpg\" alt=\"\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif yang mengembangkan teori dari data yang ada, bukan dari teori yang sudah ada. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Barney G. Glaser dan Anselm L. Strauss pada tahun 1967. Metode ini sangat populer dalam berbagai bidang, terutama di ilmu sosial dan pendidikan. Artikel ini akan membahas pengertian Grounded Theory, tahapan-tahapan dalam penerapannya, dan contoh penerapannya dalam penelitian.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Grounded Theory?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Grounded Theory adalah pendekatan penelitian kualitatif untuk mengembangkan teori yang berlandaskan pada data yang dikumpulkan. Peneliti mengumpulkan data dan menganalisisnya untuk membangun teori baru berdasarkan pola yang muncul.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ciri khas Grounded Theory:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Induktif:<\/strong> Teori dibangun dari bawah berdasarkan data.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Proses berkelanjutan:<\/strong> Analisis data dilakukan selama pengumpulan data.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Coding terbuka:<\/strong> Peneliti menandai segmen data yang relevan dan memberi label untuk menyusun kategori.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tahapan dalam Grounded Theory<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Berikut adalah tahapan utama dalam penelitian menggunakan Grounded Theory:<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Pengumpulan Data<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Data dapat dikumpulkan melalui wawancara, observasi, atau dokumen. Data yang dikumpulkan bisa berupa transkrip wawancara, catatan lapangan, atau rekaman percakapan. Pada tahap ini, peneliti mulai mengenali pola dalam data.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Open Coding (Pengkodean Terbuka)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Peneliti memberi label atau kategori pada data yang relevan untuk menemukan konsep yang muncul. Ini dilakukan tanpa dipengaruhi teori sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Contoh:<\/strong><br>Jika data wawancara menunjukkan kata-kata seperti \u201cmudah digunakan\u201d atau \u201ctidak efisien\u201d, peneliti memberi label \u201ckemudahan penggunaan\u201d atau \u201chambatan teknis\u201d.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Axial Coding (Pengkodean Aksial)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Pada tahap ini, peneliti menghubungkan kategori-kategori yang ditemukan pada tahap sebelumnya. Mereka mencari hubungan antar kategori untuk mengembangkan pemahaman lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Contoh:<\/strong><br>Peneliti menemukan hubungan antara &#8220;kemudahan penggunaan&#8221; dan &#8220;tingkat kepuasan pengguna&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Selective Coding (Pengkodean Selektif)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Pada tahap ini, peneliti memilih kategori utama yang menjadi dasar teori. Peneliti menyaring dan mengintegrasikan kategori untuk membentuk teori atau model komprehensif.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Contoh:<\/strong><br>Peneliti mengembangkan teori tentang bagaimana &#8220;kemudahan penggunaan&#8221; dan &#8220;keterbatasan fungsional&#8221; mempengaruhi &#8220;kepuasan pengguna&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Teoritisasi (Theorizing)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Peneliti mengembangkan teori berdasarkan hasil analisis. Teori ini berasal dari data yang dikumpulkan dan dianalisis secara induktif.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Penerapan Grounded Theory dalam Penelitian<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Berikut adalah contoh penerapan Grounded Theory dalam penelitian:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Contoh Kasus:<\/strong><br>Seorang peneliti ingin mengkaji pengalaman pengguna aplikasi belajar bahasa. Peneliti mewawancarai 20 pengguna dan menemukan tema seperti &#8220;kemudahan penggunaan&#8221;, &#8220;motivasi belajar&#8221;, dan &#8220;hambatan teknis&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Langkah-langkah Penelitian:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pengumpulan Data:<\/strong> Peneliti mewawancarai 20 pengguna aplikasi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Open Coding:<\/strong> Menandai data seperti &#8220;kemudahan penggunaan&#8221; dan &#8220;hambatan teknis&#8221;.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Axial Coding:<\/strong> Menghubungkan kategori, seperti hubungan antara &#8220;kemudahan penggunaan&#8221; dan &#8220;tingkat kepuasan pengguna&#8221;.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Selective Coding:<\/strong> Mengintegrasikan kategori untuk mengembangkan teori.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><strong>Hasil Penelitian:<\/strong><br>Peneliti mengembangkan teori bahwa &#8220;kemudahan penggunaan&#8221; meningkatkan &#8220;kepuasan pengguna&#8221;, yang pada gilirannya meningkatkan &#8220;motivasi belajar&#8221;. Namun, &#8220;hambatan teknis&#8221; dapat mengurangi kepuasan dan motivasi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kesimpulan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Grounded Theory adalah metode penelitian yang kuat untuk mengembangkan teori dari data yang ada. Dengan tahapan seperti open coding, axial coding, dan selective coding, peneliti dapat menggali pola dan hubungan dalam data untuk membangun teori. Metode ini sangat berguna di berbagai bidang, seperti ilmu sosial, psikologi, pendidikan, dan teknologi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tertarik memulai penelitian dengan teori ini?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pelajari lebih lanjut tentang dan cara penerapannya dalam penelitian Anda untuk hasil yang lebih mendalam! Jika mengalami kebingungan, jangan ragu untuk menguhubungi\u00a0<a href=\"https:\/\/ebizmark.id\/konsultasi\/\">layanan konsultasi<\/a>\u00a0yang ditangani langsung oleh pakarnya.\u00a0Ikuti juga<a href=\"https:\/\/ebizmark.id\/kelasgratis\/\">\u00a0kelas eksklusif<\/a>\u00a0nya secara gratis! Kunjungi \u00a0<a href=\"https:\/\">Ebizmark Blog<\/a>\u00a0dan\u00a0<a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/ebizmark.id\/\">Instagram @<\/a>\u00a0temukan konten menarik lainnya!<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif yang mengembangkan teori dari data yang ada, bukan dari&nbsp;[&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[291,58,638],"newstopic":[],"class_list":["post-2358","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-penelitian","tag-kualitatif","tag-penelitian","tag-teori"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian - Ebizmark Blog<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif untuk mengembangkan teori berdasarkan data yang ada, bukan teori yang sudah ada.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian - Ebizmark Blog\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif untuk mengembangkan teori berdasarkan data yang ada, bukan teori yang sudah ada.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Ebizmark Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-01-31T06:32:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-01-31T06:37:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/drkriukow.com\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/grounded-theory-23899358.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"siti shalwa aulia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"siti shalwa aulia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian - Ebizmark Blog","description":"Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif untuk mengembangkan teori berdasarkan data yang ada, bukan teori yang sudah ada.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian - Ebizmark Blog","og_description":"Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif untuk mengembangkan teori berdasarkan data yang ada, bukan teori yang sudah ada.","og_url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/","og_site_name":"Ebizmark Blog","article_published_time":"2025-01-31T06:32:04+00:00","article_modified_time":"2025-01-31T06:37:57+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/drkriukow.com\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/grounded-theory-23899358.jpg","type":"","width":"","height":""}],"author":"siti shalwa aulia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"siti shalwa aulia","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/"},"author":{"name":"siti shalwa aulia","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/person\/b635020b4bd768d422d87240a5331e5b"},"headline":"Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian","datePublished":"2025-01-31T06:32:04+00:00","dateModified":"2025-01-31T06:37:57+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/"},"wordCount":520,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drkriukow.com\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/grounded-theory-23899358.jpg","keywords":["kualitatif","penelitian","Teori"],"articleSection":["Penelitian"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/","name":"Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian - Ebizmark Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drkriukow.com\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/grounded-theory-23899358.jpg","datePublished":"2025-01-31T06:32:04+00:00","dateModified":"2025-01-31T06:37:57+00:00","description":"Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif untuk mengembangkan teori berdasarkan data yang ada, bukan teori yang sudah ada.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#primaryimage","url":"https:\/\/drkriukow.com\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/grounded-theory-23899358.jpg","contentUrl":"https:\/\/drkriukow.com\/wp-content\/uploads\/2018\/02\/grounded-theory-23899358.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/grounded-theory-definisi-tahap-hingga-contoh-penelitian\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Grounded Theory: Definisi, Tahap, hingga Contoh Penelitian"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#website","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/","name":"Ebizmark Blog","description":"Kumpulan informasi mengenai penelitian, olah data, dosen, mahasiswa","publisher":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#organization","name":"Ebizmark","alternateName":"PT Ebiz Prima Nusa","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/cropped-cropped-Logo-Baru-Ebizmark-e1749526996722.png","contentUrl":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/cropped-cropped-Logo-Baru-Ebizmark-e1749526996722.png","width":200,"height":67,"caption":"Ebizmark"},"image":{"@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/#\/schema\/person\/b635020b4bd768d422d87240a5331e5b","name":"siti shalwa aulia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f0674d61693d7373755789aa6adb9549b240d80fd57431b526c29ae1fd29975f?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f0674d61693d7373755789aa6adb9549b240d80fd57431b526c29ae1fd29975f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f0674d61693d7373755789aa6adb9549b240d80fd57431b526c29ae1fd29975f?s=96&d=mm&r=g","caption":"siti shalwa aulia"},"url":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/author\/sitishalwaaulia\/"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2358"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2358\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2359,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2358\/revisions\/2359"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2358"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ebizmark.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=2358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}