Merasa Tertinggal di Usia 20-an? Bisa Jadi Ini Quarter Life Crisis Mahasiswa
Memasuki usia 20-an sering kali menjadi fase yang penuh tekanan, terutama bagi mahasiswa. Di satu sisi, masa ini dianggap sebagai waktu untuk mengejar mimpi dan membangun masa depan. Namun di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa yang justru merasa bingung, cemas, bahkan tertinggal dibandingkan teman-temannya. Perasaan ini sering kali muncul tanpa disadari dan dikenal sebagai quarter life crisis. Fenomena quarter life crisis semakin banyak dialami mahasiswa seiring dengan tuntutan akademik, sosial, dan ekspektasi kesuksesan yang datang dari berbagai arah.
Pengertian Quarter Life Crisis Versi Mahasiswa
Quarter life crisis adalah fase krisis emosional yang umumnya dialami individu pada usia 18-25 tahun. Pada mahasiswa, quarter life crisis ini sering muncul dalam bentuk kebingungan dan menentukan arah hidup, rasa tidak percaya diri terhadap kemampuan diri, serta kecemasan akan masa depan setelah lulus. Mahasiswa yang mengalami quarter life crisis biasanya mulai mempertanyakan pilihan jurusan, tujuan hidup, hingga makna sukses menurut dirinya sendiri. Fase ini bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses pencarian jati diri yang wajar terjadi di masa transisi menuju dewasa.
Tanda-Tanda Quarter Life Crisis Mahasiswa
Quarter life crisis pada mahasiswa dapat dikenali melalui beberapa tanda yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa tanda dari quarter life crisis yang seringkali dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa:
1. Merasa tertinggal dari teman sebaya
Mahasiswa sering merasa tidak berkembang ketika melihat pencapaian teman dalam akademik, organisasi, atau kehidupan pribadi, meskipun setiap orang memiliki proses yang berbeda.
2. Mudah merasa cemas dan overthinking
Pikiran yang terus-menerus dipenuhi kekhawatiran membuat mahasiswa sulit fokus, cepat lelah secara mental, dan kehilangan motivasi belajar.
3. Sering membandingkan diri dengan orang lain
Kebiasaan membandingkan diri dapat menurunkan rasa percaya diri dan memunculkan perasaan tidak cukup baik.
4. Mengalami perubahan emosi yang tidak stabil
Perubahan suasanan hati yang cepat disertai rasa lelah berkepanjangan dapat menjadi tanda bahwa tekanan emosional mulai memengaruhi kesehatan mental.
Faktor Penyebab Quarter Life Crisis
Ada berbagai faktor yang dapat memicu quarter life crisis pada mahasiswa. Salah satunya adalah perubahan besar dalam hidup, seperti tuntutan akademik yang meningkat, tekanan untuk lulus tepat waktu, dan kekhawatiran memasuki dunia kerja. Selain itu, lingkungan sosial dan media sosial juga berperan besar dalam membentuk standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Mahasiswa menjadi lebih mudah merasa gagal ketika hidupnya tidak sesuai dengan gambaran ideal yang sering ditampilkan di media sosial.
Tekanan Harus Cepat “Sukses”
Tekanan untuk cepat sukses menjadi salah satu penyebab utama quarter life crisis. Mahasiswa sering merasa harus segera memiliki prestasi, karier, atau penghasilan di usia muda. Narasi tentang “usia 20-an adalah masa emas” membuat banyak mahasiswa merasa panik jika hidupnya belum sesuai ekspektasi. Padahal, setiap individu memiliki timeline kehidupan yang berbeda. Tekanan ini dapat membuat mahasiswa kehilangan kesempatan untuk menikmati proses belajar dan berkembang secara alami.
Dampak Quarter Life Crisis terhadap Mental dan Akademik Mahasiswa
Quarter life crisis yang tidak disikapi dengan baik dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Perasaan cemas dan stres berkepanjangan dapat menurunkan kepercayaan diri dan memicu gangguan emosional. Dari sisi akademik, mahasiswa bisa mengalami penurunan konsentrasi, kehilangan semangat belajar, hingga menunda penyelesaian tugas dan skripsi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi prestasi akademik dan kualitas hidup mahasiswa secara keseluruhan.
Cara Menyikapi Quarter Life Crisis Secara Sehat
Memasuki usia 20-an, banyak mahasiswa mulai merasa bingung dengan arah hidup dan masa depan. Perasaan ragu, cemas, hingga merasa tertinggal sering kali muncul dan dikenal sebagai quarter life crisis. Agar fase ini tidak berdampak negatif dan bisa dilalui dengan lebih tenang, berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan mahasiswa untuk menyikapinya secara sehat.
1. Menerima fase quarter life crisis
Menyadari bahwa kebingungan dan keraguan di usia 20-an adalah hal yang wajar, bukan tanda kegagalan atau kelemahan diri.
2. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain
Setiap orang punya timeline hidup yang berbeda, fokus pada proses diri sendiri akan membantu mengurangi tekanan berlebih.
3. Menetapkan tujuan kecil yang realistis
Target sederhana membantu mahasiswa melangkah pelan tapi konsisten, sekaligus membangun rasa percaya diri.
4. Berbagi cerita dan mencari dukungan
Bercerita pada orang terpercaya dapat meringankan beban pikiran dan memberi sudut pandang baru.
5. Menjaga Keseimbangan diri
Istirahat cukup, menjaga kesehatan fisik, dan memberi waktu untuk refleksi diri membantu melewati fase ini dengan lebih tenang.
Penutup
Quarter life crisis adalah fase yang banyak dialami mahasiswa di usia 20-an. Perasaan tertinggal, cemas, dan bingung terhadap masa depan merupakan bagian dari proses pencarian jati diri. Dengan memahami pengertian, tanda-tanda, penyebab, serta dampaknya, mahasiswa diharapkan dapat menyikapi quarter life crisis secara lebih sehat.
Butuh Bantuan dalam Riset dan Penulisan Karya Ilmiah?
Quarter life crisis membuat kamu burn out dalam akademik terutama penulisan karya ilmiah? Tenang jangan khawatir! untuk mempermudah proses penulisan dan publikasi karya ilmiah, kini tersedia berbagai layanan digital seperti Ebizmark yang menyediakan platform MyData dan Ebizmark Press. Fitur yang disediakan oleh produk Ebizmark dapat membantu penulis dalam mengelola data, menyusun referensi, serta mempublikasikan karya ilmiah secara efisien dan terstandar.
