Mengapa Fenomena Nebeng Nama di Jurnal Masih Terjadi?
Bayangkan skenario ini: seorang dosen meminta namanya dicantumkan sebagai penulis di sebuah paper ilmiah, padahal ia tidak berkontribusi apa pun dalam penelitian tersebut. Atau sebaliknya, mahasiswa yang bekerja keras mengumpulkan data dan menulis draft tidak mendapat pengakuan sama sekali karena namanya sengaja dihilangkan.
Keduanya adalah bentuk dari fenomena yang dikenal sebagai penyalahgunaan authorship dalam publikasi ilmiah, atau yang sering disebut secara informal sebagai nebeng nama di jurnal. Dan meski jarang dibicarakan secara terbuka, praktik ini jauh lebih umum terjadi daripada yang banyak orang sadari.
Baca Juga: Tingkatan Jurnal SINTA 1 sampai 6 yang Wajib Diketahui Peneliti
Apa Itu Nebeng Nama di Jurnal?
Dalam dunia publikasi ilmiah, ada dua bentuk penyalahgunaan authorship yang paling sering terjadi:
Gift Authorship
Gift authorship terjadi ketika seseorang dicantumkan sebagai penulis padahal ia tidak memiliki kontribusi nyata dalam penelitian. Ini bisa terjadi karena tekanan hierarki, balas budi, atau strategi untuk meningkatkan kredibilitas paper dengan mencantumkan nama peneliti senior yang dikenal.
Ghost Authorship
Kebalikannya adalah ghost authorship, di mana seseorang yang benar-benar berkontribusi signifikan justru tidak dicantumkan namanya. Ini kerap menimpa mahasiswa, asisten peneliti, atau pihak ketiga yang dibayar untuk menulis tapi identitasnya sengaja disembunyikan.
Kenapa Fenomena Ini Masih Terus Terjadi?
Ada beberapa faktor yang membuat praktik nebeng nama di jurnal sulit diberantas:
Tekanan Publikasi yang Tinggi
Sistem evaluasi akademik di banyak institusi sangat bergantung pada jumlah publikasi. Dosen dan peneliti dituntut publish or perish, kondisi di mana produktivitas riset diukur dari kuantitas paper yang terbit. Tekanan ini mendorong sebagian orang mencari jalan pintas, termasuk dengan nebeng nama di jurnal orang lain.
Ketimpangan Relasi Kuasa
Mahasiswa atau peneliti junior seringkali berada dalam posisi yang sulit untuk menolak ketika atasan atau pembimbing mereka meminta dicantumkan sebagai penulis tanpa kontribusi yang jelas. Ketakutan akan dampak terhadap nilai, beasiswa, atau karier akademik membuat mereka memilih diam.
Kurangnya Pemahaman soal Standar Authorship
Tidak semua akademisi memahami dengan baik standar authorship yang berlaku secara internasional. Banyak yang menganggap dicantumkan sebagai penulis adalah bentuk penghargaan, bukan tanggung jawab. Padahal, menjadi penulis di sebuah paper berarti ikut bertanggung jawab atas kebenaran isi dan integritas penelitiannya.
Standar Authorship Menurut ICMJE
International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE) telah menetapkan kriteria authorship yang banyak diadopsi jurnal-jurnal internasional. Seseorang baru layak disebut penulis jika memenuhi keempat syarat berikut:
- Berkontribusi substansial dalam konsep, desain, pengumpulan data, atau analisis penelitian
- Terlibat dalam penyusunan atau revisi kritis isi paper
- Menyetujui versi final yang akan dipublikasikan
- Bertanggung jawab atas akurasi dan integritas seluruh bagian penelitian
Jika seseorang hanya berkontribusi dalam satu aspek saja, misalnya hanya menyediakan dana atau hanya membaca draft tanpa revisi substansial, maka yang tepat adalah mencantumkan kontribusinya di bagian acknowledgment, bukan sebagai penulis.
Baca Juga: Waspada Predatory Journal! Kenali Ciri dan Cara Menghindarinya
Risiko yang Sering Diabaikan
Banyak yang menganggap nebeng nama di jurnal sebagai praktik yang aman karena sudah lumrah. Padahal risikonya nyata dan bisa berdampak jangka panjang:
- Retraksi paper jika pelanggaran etika terungkap, yang bisa merusak reputasi semua pihak yang namanya tercantum
- Sanksi dari institusi akademik, mulai dari teguran resmi hingga pemecatan
- Larangan publikasi di jurnal tertentu untuk jangka waktu tertentu
- Kerusakan reputasi akademik yang sulit dipulihkan, terutama di era digital di mana jejak publikasi mudah dilacak
Cara Menghindari dan Menyikapi Praktik Ini
Baik sebagai mahasiswa maupun peneliti, ada beberapa langkah konkret yang bisa kamu ambil:
- Pelajari dan pahami kriteria authorship yang ditetapkan jurnal atau institusimu sejak awal
- Diskusikan peran dan kontribusi setiap anggota tim secara terbuka sebelum penelitian dimulai, bukan setelah paper hampir selesai
- Dokumentasikan kontribusi masing-masing pihak secara tertulis sebagai perlindungan bersama
- Jika menghadapi tekanan untuk mencantumkan nama tanpa kontribusi, cari tahu mekanisme pelaporan yang tersedia di institusimu
- Gunakan pernyataan kontribusi penulis (author contribution statement) yang kini diwajibkan banyak jurnal internasional
Fenomena nebeng nama di jurnal bukan sekadar pelanggaran administratif, ini menyentuh inti dari integritas ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketika authorship tidak mencerminkan kontribusi nyata, kepercayaan terhadap penelitian ilmiah secara keseluruhan ikut terkikis.
Sebagai bagian dari komunitas akademik, memahami dan menegakkan standar authorship yang benar adalah tanggung jawab bersama, bukan pilihan.
Mau proses penelitian dan publikasimu lebih terarah? Ebizmark hadir untuk membantu mahasiswa dan peneliti yang ingin menjalani proses riset dan publikasi secara benar dan berintegritas. Dari konsultasi metodologi hingga pendampingan penulisan ilmiah, kami siap jadi mitra perjalanan akademikmu.







