Mengenal Deep Learning dalam Pendidikan Indonesia

Deep Learning

Deep Learning dalam Kurikulum 2025: Membangun Pembelajaran Mendalam di Sekolah

Deep learning atau pembelajaran mendalam semakin menjadi sorotan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Konsep ini menekankan pembelajaran yang bermakna, kreatif, dan aplikatif, sehingga peserta didik tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Dengan pendekatan ini, proses belajar di sekolah dasar dan menengah diharapkan menjadi lebih interaktif, reflektif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Apa itu Deep Learning dalam Dunia Pendidikan?

Menurut Cambridge Dictionary, deep learning adalah metode pembelajaran yang memungkinkan seseorang memahami konsep secara menyeluruh dan tidak mudah melupakan materi yang dipelajari. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini mendorong peserta didik untuk:

  • Berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah.

  • Mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata atau konteks dunia sekitar.

  • Mengembangkan kemampuan refleksi, kolaborasi, dan komunikasi secara holistik.

Pendekatan ini menekankan bahwa belajar tidak hanya soal menghafal, tetapi memahami konsep, berpikir analitis, dan menerapkannya secara nyata.

Tiga Elemen Utama Deep Learning

Pendekatan deep learning dalam dunia pendidikan yang diusung oleh Kemendikbudristek melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah terdiri dari tiga elemen penting, yaitu Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Ketiga elemen ini memiliki makna masing-masing dalam membangun pengalaman belajar siswa yang mendalam dan relevan sebegai berikut:

1. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Elemen ini menekankan bahwa proses belajar siswa harus memiliki makna dan keterkaitan dengan kehidupan nyata saat ini. Siswa bukan hanya sekedar menghafal namun juga memahami konsep pembelajaran secara mendalam, sehingga dapat dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari.

Contoh sederhana penerapan Meaningful Learning adalah ketika belajar mengenai persentase dalam matematika, siswa tidak hanya mengerjalan soal yang tersedia di buku, namun juga diminta menganalisis pengeluaran harian misalnya uang jajan, transportasi ke sekolah, dan tabungan. Dari hasil analisis tersebut, mereka dapat mencari solusi bagaimana cara mengatur keuangan agar tetap bisa menabung.

2. Mindful Learning (Belajar dengan Sadar dan Aktif)

Elemen ini menekankan kesadaran penuh dalam belajar, siswa tidak hanya duduk dan mendengar di kelas, namun juga benar-benar hadir sepenuhnya dalam proses belajar. Mereka bukan hanya menerima materi, namun juga menyadari apa yang sedang dipelajari, mengapa hal itu penting, dan bagaimana kaitannya dengan diri mereka sendiri. Dengan begitu proses belajar bukan hanya menjadi rutinitas, melainkan menjadi proses yang penuh makna.

Contoh sederhana penerapan Mindful Learning adalah ketika dalam pelajaran IPA mengenai kesehatan, siswa diminta meneliti pola makan mereka sehari-hari. Mereka mencatat menu makanan selama seminggu, lalu menganalisis mana yang sehat atau tidak, kemudian menyusun rencana pola makan yang sehat untuk diri mereka sendiri.

3. Joyful Learning (Belajar dengan Menyenangkan)

Elemen ini menekankan proses belajar dirancang dengan menyenangkan dan dapat membuat siswa betah. Ketika suasana kelas terasa hangat dan positif, siswa akan lebih termotivasi, berani mencoba hal baru, dan lebih mudah memahami materi. Belajar tidak lagi dianggap beban, melainkan menjadi pengalaman yang ditunggu dan paling menyenangkan.

Contoh sederhana penerapan Joyful Learning adalah dalam pelajaran IPS, siswa diajak membuat “pasar mini” di kelas untuk mempraktikkan konsep jual-beli dan ekonomi sederhana. Mereka bisa berperan sebagai penjual, pembeli, atau pengelola. Aktivitas ini akan membuat belajar IPS lebih menyenangkan, realistis, dan melatih keterampilan sosial.

Strategi Mengoptimalkan Deep Learning

Untuk menghadapi tantangan tersebut, beberapa strategi dapat diterapkan:

  • Mengembangkan metode interaktif seperti problem-based learning dan inquiry-based learning.

  • Memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung proses pembelajaran yang aplikatif.

  • Menyesuaikan penilaian berbasis proyek atau portofolio untuk mengukur pemahaman secara mendalam.

  • Mendorong kolaborasi antar pengajar untuk berbagi praktik terbaik dan inovasi pembelajaran.

  • Membangun lingkungan belajar inklusif dan adaptif, mendukung semua peserta didik berkembang sesuai potensinya.

Strategi pembelajaran mendalam bukan sekadar metode belajar, tetapi merupakan transformasi pendidikan yang menekankan pemahaman mendalam, keterampilan berpikir kritis, dan penerapan ilmu dalam kehidupan nyata.

Dengan strategi dan dukungan yang tepat, baik guru, dosen, maupun lembaga pendidikan dapat menerapkan deep learning di semua jenjang, membangun peserta didik yang kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global di era digital. Informasi lebih dalam terkait deep learning atau pembelajaran mendalam dapat kamu temukan di Deep Learning Kemdikbud.

Ingin tahu lebih banyak tentang strategi pembelajaran mendalam dan inovasi pendidikan? Kunjungi Ebizmark.id untuk artikel inspiratif, tips, dan sumber daya edukasi terbaru yang bisa membantu guru, dosen, dan akademisi memperkaya metode pengajaran. Jangan lewatkan informasi menariknya!

Related posts