Ketentuan Pertanyaan yang Baik dalam Wawancara Penelitian

ketentuan pertanyaan wawancara

Ketentuan Pertanyaan yang Baik dalam Wawancara Penelitian

Banyak peneliti yang sudah susah payah menyiapkan panduan wawancara, namun tetap pulang dengan data yang dangkal dan tidak cukup untuk dijelaskan. Bukan karena informannya tidak kooperatif. Bukan karena topiknya kurang menarik. Melainkan karena pertanyaan yang diajukan tidak dirancang dengan baik.

Pertanyaan wawancara yang buruk bisa membuat informan hanya menjawab ya atau tidak, memberikan jawaban yang defensif, atau berbicara jauh dari topik yang relevan. Sebaliknya, pertanyaan yang dirancang dengan baik bisa membuka narasi yang kaya, mengungkap pengalaman yang mendalam, dan menghasilkan data yang benar-benar bisa menjawab pertanyaan penelitian Anda.

Memahami ketentuan pertanyaan wawancara yang baik hanya bukan soal teknis akademis. Ini adalah keterampilan yang secara langsung menentukan kualitas data penelitianmu dan pada akhirnya kualitas keseluruhan penelitianmu.

Konteks: Panduan ini paling relevan untuk penelitian kualitatif yang menggunakan wawancara sebagai metode pengumpulan data utama, baik wawancara terstruktur, semi-terstruktur, maupun tidak terstruktur. Sebagian besar ketentuan juga berlaku untuk wawancara dalam penelitian campuran (metode campuran).

Baca juga: Tools AI untuk Literature Review yang Efektif

Mengapa Kualitas Pertanyaan Menentukan Kualitas Data

Dalam penelitian kualitatif, wawancara adalah alat utama pengumpulan data. Dan seperti semua alat, hasilnya sangat bergantung pada bagaimana alat tersebut digunakan. Pertanyaan wawancara adalah instrumen yang menentukan jenis dan kedalaman informasi yang bisa kamu kumpulkan.

Peneliti yang tidak memperhatikan kualitas pertanyaannya sering berakhir dengan transkrip wawancara yang panjang tapi miskin konten. Banyak kata, sedikit substansi. Dan ketika tiba saatnya untuk menganalisis data, tidak ada cukup materi yang bisa digali lebih dalam.

Sebaliknya, panduan wawancara dengan pertanyaan yang dirancang secara cermat dapat menghasilkan data yang kaya bahkan dari sesi wawancara yang relatif singkat, karena setiap pertanyaan memaksimalkan informasi yang diperoleh dari setiap momen interaksi dengan informan.

Ketentuan Utama Pertanyaan yang Baik

1. Pertanyaan Terbuka, Bukan Tertutup

Ini adalah ketentuan paling mendasar dan paling sering dilanggar. Pertanyaan tertutup adalah yang bisa dijawab dengan satu atau dua kata, terutama ya atau tidak. Pertanyaan terbuka adalah yang mengundang informan untuk menceritakan, menjelaskan, atau menggambarkan pengalamannya secara lebih luas.

Contoh 1 (Penelitian Pendidikan):

Penghindaran: Apakah Anda merasa metode pembelajaran berani efektif?

Lebih baik: Bagaimana pengalamanmu selama mengikuti pembelajaran berani? Apa yang terasa berbeda dibandingkan belajar langsung di kelas?

Mengapa: Pertanyaan pertama mengundang jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ yang tidak menghasilkan data yang berarti. Pertanyaan kedua mengundang narasi pengalaman yang kaya dan bisa digali lebih dalam.

2. Satu Pertanyaan, Satu Fokus

Pertanyaan ganda, yaitu menggabungkan dua atau lebih pertanyaan dalam satu kalimat, adalah jebakan yang sangat umum. Informan biasanya hanya menjawab bagian yang terakhir didengar atau bagian yang paling mudah, sementara bagian lainnya terabaikan.

Contoh 2 (Penelitian Manajemen):

Penghindaran: Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi dalam pekerjaan dan bagaimana kamu mengatasinya serta apa dukungan dari atasan yang kamu rasakan?

Lebih baik: Tantangan apa yang paling terasa berat dalam pekerjaanmu sekarang? (lanjutkan dengan pertanyaan terpisah tentang cara mengatasi dan dukungan atasan)

Mengapa: Pertanyaan ganda membingungkan informan dan menghasilkan jawaban yang tidak lengkap. Satu pertanyaan satu fokus menghasilkan jawaban yang lebih mendalam dan lebih mudah dijelaskan.

3. Netral dan Tidak Mengarahkan

Pertanyaan yang sudah mengandung asumsi atau sudut pandang tertentu akan mendorong informan untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan ekspektasi peneliti, bukan pengalaman mereka yang sebenarnya. Ini adalah bias yang paling merusak validitas data kualitatif.

Contoh 3 (Penelitian Kesehatan):

Hindari: Mengapa program ini tidak berhasil?

Lebih baik: Bagaimana penilaianmu terhadap program ini? Apa yang menurut kamu berjalan dengan baik dan apa yang bisa ditingkatkan?

Mengapa: Pertanyaan pertama sudah berasumsi bahwa program tidak berhasil, yang menggiring informan untuk setuju. Pertanyaan kedua memberi ruang bagi informan untuk memberikan penilaian mereka sendiri tanpa bias dari peneliti.

Waspadai: Kata-kata seperti ‘mengapa kamu setuju bahwa…’, ‘bukankah…’, atau ‘tentunya kamu merasa…’ adalah tanda pertanyaan yang mengarahkan. Hindari juga nada suara atau ekspresi wajah yang mengindikasikan harapan jawaban tertentu saat wawancara berlangsung.

Baca juga: Apa itu Triangulasi Data? Ini Pengertian, Fungsi, dan Contohnya

4. Menggunakan Bahasa yang Mudah Dipahami Informan

Pertanyaan yang menggunakan jargon akademis atau terminologi teknis yang tidak familiar bagi informan akan menghasilkan kebingungan atau jawaban yang tidak relevan. Bahasa pertanyaan harus disesuaikan dengan latar belakang, pendidikan, dan konteks budaya informan.

Contoh 4 (Penelitian Sosial):

Hindarkan: Bagaimana persepsi Anda terhadap hegemoni budaya dominan dalam konteks interaksi sosial komunitas Anda?

Lebih baik: Dalam kehidupan sehari-hari di komunitas ini, apakah ada kebiasaan atau nilai tertentu yang terasa lebih kuat pengaruhnya dari yang lain? Bisakah ceritakan pengalamanmu?

Mengapa: Pertanyaan pertama menggunakan jargon yang tidak familiar bagi informan umum. Pertanyaan kedua menyampaikan konsep yang sama dengan bahasa yang lebih mudah dipahami dan lebih mengundang cerita.

5. Spesifik pada Pengalaman, Bukan Opini Umum

Pertanyaan yang meminta opini umum cenderung menghasilkan jawaban normatif yang tidak mewakili pengalaman nyata. Pertanyaan yang meminta informan untuk menceritakan pengalaman spesifik menghasilkan data yang jauh lebih kaya dan lebih autentik.

Contoh 5 (Penelitian Komunikasi):

Hindari: Menurut kamu, apa dampak media sosial terhadap hubungan sosial?

Lebih baik: Ceritakan satu situasi konkret ketika media sosial mempengaruhi cara kamu berhubungan dengan orang lain. Apa yang terjadi dan bagaimana perasaanmu saat itu?

Mengapa: Pertanyaan pertama mengundang generalisasi yang tidak didukung pengalaman nyata. Pertanyaan kedua mengundang narasi spesifik yang bisa dijelaskan secara mendalam.

Jenis Pertanyaan yang Perlu Ada dalam Panduan Wawancara

Panduan wawancara yang baik tidak hanya terdiri dari satu jenis pertanyaan. Ada beberapa jenis yang perlu dikombinasikan untuk menghasilkan sesi wawancara yang produktif.

Pertanyaan Pembuka

Pertanyaan di sesi awal harus ringan dan tidak mengancam, bertujuan untuk membangun hubungan baik dan membuat informan merasa nyaman sebelum masuk ke topik yang lebih substantif. Hindari langsung masuk ke pertanyaan inti di menit-menit pertama.

Tips: Pertanyaan pembuka yang baik biasanya tentang latar belakang informan atau pengalaman umum yang tidak sensitif. Contoh: ‘Bisa ceritakan sedikit tentang peran kamu di organisasi ini?’ atau ‘Sudah berapa lama kamu bekerja di bidang ini?’

Pertanyaan Inti

Ini adalah pertanyaan yang langsung menjawab tujuan penelitian. Biasanya paling banyak kuantitas dan paling dalam substansinya. Pastikan setiap pertanyaan inti bisa ditelusuri balik ke salah satu rumusan masalah atau tujuan penelitianmu.

Pertanyaan Penyelidikan

Pertanyaan lanjutan yang digunakan untuk menggali lebih dalam jawaban yang diberikan informan. Ini tidak perlu ditulis semuanya dalam panduan wawancara karena sifatnya yang responsif terhadap apa yang dikatakan informan, tetapi peneliti perlu berlatih menggunakannya secara alami.

  • ‘Bisa ceritakan lebih detail tentang itu?’
  • ‘Apa yang kamu maksud dengan [kata yang digunakan informan]?’
  • ‘Bagaimana perasaanmu saat itu?’
  • ‘Ada contoh konkret yang bisa kamu ceritakan?’

Pertanyaan Penutup

Jangan lewatkan pertanyaan penutup di akhir sesi wawancara. Selain menutup percakapan dengan suasana yang positif, pertanyaan ini memberi kesempatan informan untuk menyampaikan hal yang belum sempat keluar selama sesi berlangsung, dan sering kali hasilnya justru yang paling menarik.

Baca juga: 5 Situs Cek Plagiarisme Terbaik untuk Skripsi dan Penelitian!

Cara Menguji Kualitas Panduan Wawancara Sebelum Digunakan

Setelah menyusun panduan wawancara, ada beberapa cara untuk menguji apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah memenuhi ketentuan yang baik sebelum digunakan di lapangan.

Pertama, lakukan wawancara uji coba dengan seseorang yang memiliki karakteristik serupa dengan informan targetmu tetapi bukan bagian dari sampel penelitian. Perhatikan apakah pertanyaannya dipahami dengan baik dan apakah jawaban yang diberikan relevan dengan tujuan penelitian Anda.

Kedua, mohon dosen pembimbing atau rekan yang berpengalaman dalam penelitian kualitatif untuk menyebarkan panduan wawancara Anda. Perspektif orang luar sangat membantu untuk mengidentifikasi pertanyaan yang ambigu, mengarahkan, atau terlalu kompleks.

Ketiga, periksa setiap pertanyaan terhadap lima ketentuan yang sudah dibahas: apakah terbuka? Fokus pada satu hal? Netral? Menggunakan bahasa yang sesuai? Dan mengundang pengalaman spesifik?

Tips: Buat panduan wawancara dalam dua kolom: kolom pertama berisi pertanyaan utama, kolom kedua berisi pertanyaan probing yang mungkin kamu gunakan jika jawaban informan kurang mendalam. Format ini memudahkan navigasi saat wawancara berlangsung.

Baca Juga: Aplikasi Gratis Terbaik Untuk Transkrip Wawancara Penelitian

Ketentuan pertanyaan wawancara yang baik dalam penelitian mencakup lima prinsip utama: pertanyaan terbuka yang mengundang narasi, fokus pada satu hal per pertanyaan, netral tanpa asumsi atau arah tertentu, menggunakan bahasa yang sesuai dengan informan, dan spesifik pada pengalaman nyata bukan opini umum. Panduan wawancara yang memenuhi kelima ketentuan ini akan menghasilkan sesi wawancara yang lebih produktif, data yang lebih kaya, dan analisis yang lebih mendalam. Dan pada akhirnya, kualitas data wawancara sangat menentukan kekuatan keseluruhan penelitian kualitatifmu.

Butuh bantuan merancang panduan wawancara yang kuat untuk penelitian kualitatifmu? Ebizmark hadir dengan program pendampingan metodologi penelitian yang memuat mulai dari perancangan instrumen, pengumpulan data, hingga analisis dan penulisan hasil. Kunjungi @ebizmark.id dan mulai konsultasimu sekarang!

Related posts