Bingung Cara Membuat Pendahuluan Artikel Ilmiah? Ini Panduannya!

Gravatar Image
cara membuat pendahuluan artikel ilmiah

Cara Membuat Pendahuluan Artikel Ilmiah yang Efektif dan Kuat

Di antara semua bagian artikel ilmiah, pendahuluan adalah yang paling sering menanggung beban terberat. Ia harus meyakinkan editor bahwa artikelmu layak dikirim ke reviewer. Ia harus meyakinkan reviewer bahwa penelitianmu memiliki kontribusi yang nyata. Dan ia harus meyakinkan pembaca bahwa waktu yang mereka investasikan untuk membaca artikel ini akan sebanding.

Semua itu harus dicapai hanya dalam beberapa paragraf pertama.Tidak mengherankan jika pendahuluan yang lemah menjadi salah satu alasan paling umum mengapa artikel ditolak di tahap desk review, bahkan sebelum masuk ke proses peer review yang sebenarnya.

Artikel ini memandumu memahami cara membuat pendahuluan artikel ilmiah yang tidak hanya memenuhi konvensi akademik, namun benar-benar efektif dalam membangun argumentasi yang meyakinkan dari kalimat pertama.

Baca juga: 3 Struktur Kesimpulan Artikel Ilmiah yang Kuat dan Tepat Sasaran

Fungsi Pendahuluan yang Sering Disalahpahami

Banyak peneliti yang menganggap pendahuluan hanya sebagai formalitas pembuka yang berisi definisi umum dan ringkasan latar belakang. Pemahaman ini yang membuat pendahuluan menjadi bagian yang paling banyak menghasilkan catatan revisi.

Pendahuluan artikel ilmiah memiliki fungsi yang jauh lebih strategis dari itu.Ia harus membangun argumen yang koheren dalam empat langkah yang saling berkaitan: membangun relevansi topik, memetakan kondisi pengetahuan saat ini, mengidentifikasi celah yang belum terisi, dan menegaskan bagaimana penelitian ini mengisi celah tersebut.

Keempat langkah ini harus hadir dalam setiap pendahuluan artikel ilmiah yang efektif, dan urutan serta proporsinya sangat menentukan kekuatan keseluruhan argumentasi yang dibangun.

Struktur Pendahuluan yang Terbukti Efektif: Model CARS

Salah satu kerangka yang paling banyak digunakan dalam pengajaran penulisan akademik internasional adalah model CARS (Create a Research Space) yang dikembangkan oleh John Swales. Model ini membagi pendahuluan menjadi tiga gerakan atau gerakan yang secara bersama-sama membangun justifikasi untuk penelitian yang dilaporkan.

Langkah 1: Membangun Wilayah (Membentuk Wilayah)

Bagian pendahuluan pertama berjanji meyakinkan pembaca bahwa topik yang kamu teliti penting dan relevan. Hal ini dilakukan dengan tiga cara yang dapat dikombinasikan: mengklaim topik tersebut penting atau menarik secara umum, memberikan gambaran umum tentang penelitian yang sudah ada di bidang tersebut, atau mendefinisikan konsep kunci yang akan digunakan sepanjang artikel.

Pembuka yang baik secara langsung menggunakan data konkret untuk membangun relevansi dan langsung mengarahkan ke bidang penelitian yang spesifik, bukan pernyataan umum yang tidak memberikan informasi baru. Dua hingga tiga paragraf yang padat sudah cukup untuk membangun relevansi topik sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya.

Kurang efektif: Media sosial adalah fenomena yang sangat penting di era modern. Banyak penelitian telah dilakukan tentang topik ini. Media sosial mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia.

Lebih efektif: Pertumbuhan pengguna media sosial di Indonesia yang mencapai 167 juta pengguna aktif pada tahun 2024 (We Are Social, 2024) telah berubah secara mendasar cara individu berinteraksi, mengonsumsi informasi, dan membentuk identitas sosial mereka. Penelitian tentang dampak penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan psikologis telah berkembang pesat sejak dekade terakhir, dengan perhatian khusus pada populasi remaja dan dewasa muda.

Langkah 2: Mengidentifikasi Celah (Membangun Niche)

Ini adalah gerakan yang paling krusial dan paling sering dilakukan dengan lemah. Di sini kamu menunjukkan bahwa meskipun sudah banyak penelitian di bidang tersebut, masih ada sesuatu yang belum terisi. Celah ini bisa berupa gap pengetahuan, gap metodologis, gap kontekstual, atau fosilisasi dalam temuan penelitian yang ada.

Langkah 2 biasanya dimulai dengan kata-kata transisi yang menandai perubahan dari apa yang sudah ada ke apa yang belum ada: ‘Meskipun demikian…’, ‘Namun, penelitian yang ada masih…’, ‘Studi-studi sebelumnya belum mengkaji…’, atau ‘Temuan yang saling berdebat tentang… menunjukkan perlunya…’.

Kesalahan umum: Menyebutkan bahwa ‘penelitian tentang X di Indonesia masih sangat terbatas’ tanpa memberikan bukti yang meyakinkan. Reviewer yang berpengalaman akan skeptis terhadap klaim ini jika tidak didukung oleh visi literatur yang menunjukkan bahwa Anda benar-benar sudah memeriksa apa yang ada dan apa yang tidak.

Baca juga: Ketentuan Pertanyaan yang Baik dalam Wawancara Penelitian

Langkah 3: Menepati Celah (Menempati Niche)

Langkah terakhir adalah di mana kamu secara eksplisit menyatakan apa yang akan dilakukan penelitianmu untuk mengisi celah yang sudah diidentifikasi. Ini mencakup pernyataan tujuan penelitian, pertanyaan penelitian, atau hipotesis yang akan diuji, serta gambaran singkat tentang pendekatan yang digunakan. Langkah ini juga memuat pernyataan tentang kontribusi penelitian, yaitu apa yang akan berubah atau bertambah dalam pemahaman ilmiah setelah penelitian ini selesai. Ini adalah pernyataan nilai yang langsung menjawab pertanyaan editor: mengapa artikel ini layak diterbitkan?

Kurang efektif: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara media sosial dan kesejahteraan psikologis.

Lebih efektif: Penelitian ini bertujuan mengisi celah tersebut dengan mengkaji hubungan antara intensitas penggunaan Instagram dan tingkat kecemasan sosial pada pelajar perempuan Indonesia usia 18-24 tahun, dengan mempertimbangkan peran moderasi harga diri sebagai variabel yang belum dieksplorasi dalam konteks Indonesia. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi empiris pada literatur tentang dampak media sosial dalam konteks budaya kolektif Asia Tenggara.

Versi kedua menyebutkan variabel yang spesifik, populasi yang terdefinisi, variabel moderasi yang menjadi kebaruan, dan kontribusi yang jelas terhadap literatur yang lebih luas.

Kesalahan Pendahuluan yang Paling Sering Menyebabkan Penolakan

Terlalu Panjang dan Bertele-tele

Pendahuluan yang efektif umumnya tidak lebih dari 15 hingga 20 persen dari total panjang artikel. Pendahuluan yang terlalu panjang biasanya memuat terlalu banyak ringkasan literatur yang seharusnya masuk ke bagian tinjauan pustaka atau terlalu banyak konteks umum yang tidak langsung berkontribusi pada argumen pembangunan.

Research Gap yang Diklaim namun Tidak Dibuktikan

Menyatakan bahwa sebuah topik tanpa menunjukkan buktinya adalah salah satu hal yang paling cepat mengurangi kepercayaan reviewer terhadap kualitas penelitianmu. Klaim kesenjangan harus didukung oleh pengamatan literatur yang sistematis, bukan sekadar pernyataan.

Tujuan Penelitian yang Tidak Muncul di Akhir Pendahuluan

Banyak pendahuluan yang membangun latar belakang dengan baik tapi lupa atau terlambat menyatakan tujuan penelitian secara eksplisit. Pernyataan tujuan harus muncul di paragraf terakhir pendahuluan dan harus bisa ditelusuri langsung ke gap yang sudah diidentifikasi sebelumnya.

Tips: Setelah menyelesaikan draf pendahuluan, coba baca hanya kalimat pertama dan kalimat terakhir dari setiap paragraf. Jika alurnya koheren dan menunjukkan pergerakan logistik dari relevansi topik ke identifikasi gap ke pernyataan tujuan, struktur pendahuluanmu sudah solid.

Cara Praktis Memulai Menulis Pendahuluan

Bagi banyak peneliti, halaman kosong di awal penulisan pendahuluan adalah hambatan yang paling nyata. Beberapa strategi berikut dapat membantu memecah kebuntuan tersebut.

Pertama, tulis tujuan penelitianmu terlebih dahulu, bahkan sebelum menulis kalimat pertama pendahuluan. Ketika kamu tahu dengan jelas ke mana pendahuluanmu harus berakhir, proses pembangunan menjadi jauh lebih mudah. Kedua, kumpulkan tiga hingga lima data atau fakta terkini yang paling meyakinkan tentang relevansi topik Anda. Data konkret adalah cara paling efektif untuk membuka pendahuluan karena langsung menunjukkan bahwa Anda sudah melakukan penelitian literatur yang memadai. Ketiga, tulis draft pendahuluan tanpa terlalu banyak mengedit di putaran pertama. 

Tips: Banyak peneliti berpengalaman menyarankan untuk menulis pendahuluan dua kali: sekali di awal untuk memandu arah penulisan, dan sekali lagi setelah seluruh artikel selesai. Pendahuluan versi kedua hampir selalu jauh lebih kuat karena kamu sudah mengetahui dengan pasti apa yang perlu dibangun justifikasinya.

Baca juga: Cara Menentukan Judul Penelitian yang Spesifik dan Terarah

Model CARS memberikan kerangka yang terbukti efektif untuk mencapai ini, namun kerangka hanyalah alat. Investasikan waktu yang cukup untuk pendahuluan. Bukan karena ia adalah bagian pertama yang dibaca, tetapi karena ia adalah bagian yang paling menentukan apakah pembaca, baik editor, reviewer, maupun pembaca umum, akan terus membaca sampai akhir. Apakah menyusun pendahuluan artikel ilmiah yang kuat dan lolos desk review? Ebizmark hadir dengan program pendampingan penulisan akademik yang memuat dari struktur pendahuluan, penguatan celah penelitian, hingga naskah yang siap dikirim ke jurnal. Kunjungi @ebizmark.id dan mulai konsultasimu sekarang!

Related posts